Edit Content
Click on the Edit Content button to edit/add the content.

Masjid Menara Kudus: Akulturasi Tiga Budaya, Jejak Sejarah dan Toleransi

Masjid Menara Kudus - instagram.com/@malamuseum

Masjid Menara Kudus yang memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa dengan menara Qudus adalah salah satu situs bersejarah dan simbol toleransi yang ada di Indonesia. Tempat beribadah ini didirikan oleh Sunan kudus (Ja’far Shadiq) pada tahun 1549 Masehi. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, akan tetapi sebagai saksi bisu dakwah cerdas dan penuh dengan kearifan lokal. Penyebaran dakwah Islam yang diterapkan oleh Wali Songo terkesan damai, dimana ajaran baru menghormati dan menyerap unsur-unsur kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Oleh sebab itu, tidak heran jika masyarakat setempat mudah untuk menerima ajaran Islam pada kala itu.

Masjid Menara kudus adalah tempat beribadah yang sangat populer, dimana masjid ini terkenal dikarenakan desain arsitektur yang unik. Bangunan ibadah ini adalah sebuah akulturasi yang terjadi di Jawa Tengah pada masa-masa Wali Songo. Keunikan arsitekturnya sangat jelas terlihat yang mengkombinasikan tiga elemen budaya utama: Hindu, Jawa, dan Islam. Bangunan utamanya terinspirasi dari arsitektur tradisional Jawa berupa atap tumpang yang tersusun tiga. Dimana atap tersebut memiliki makna tahapan dalam keimanan Islam. Dan tentunya filosofi-filosofi tersebut mudah untuk diterima oleh masyarakat. Selain itu, pintu gerbang masjid mirip gerbang pura atau gapura canri Bentar ala Hindu. Sehingga menunjukkan penghargaan yang mendalam terhadap kepercayaan lokal yang telah mengakar.

Arsitektur dan Dekorasi Masjid Menara Kudus: Harmoni Kebudayaan

Yang menjadi masjid ini terkenal adalah menaranya yang ikonik dan menara tersebut adalah titik fokus utama dari tempat beribadah ini. Tentunya tidak ada masjid yang menerapkan desain menara tersebut di kawasan Timur Tengah. Jika dilihat tentunya pengunjung tidak asing dengan bentuknya, karena menara dengan tinggi 18 meter tersebut mirip dengan Candi Jago atau Candi Kidal di Jawa Timur. Material menaranya pun tersebut dari batu bata merah tanpa plester dan memiliki pola hiasan yang sangat kental dengan unsur Hindu-Jawa. Selain itu, pada sekeliling menaranya terdapat ornamen piring-piring kuno dari Tiongkok. Sehingga dengan kehadirannya menambah dimensi akulturasi dengan budaya Tionghoa-Islam. Penerapan gaya arsitektur ini membuktikan bahwa Sunan Kudus pada kala itu sengaja menggunakan ornamen-ornamen yang familiar bagi masyarakat Hindu setempat. Jadi wajar jika merasa nyaman dan tidak terasa asing untuk datang mendekat dan menerima ajaran Islam secara bertahap.

Baca juga: Masjid Agung Kauman: Sejarah, Keagungan Arsitektur Jawa, dan Pesona Dekorasi Klasik

Pada bagian interior tempat beribadah ini terdapat empat saka guru atau bisa dikenal dengan tiang utama yang bermaterial dari kayu jati dengan teknik pasak tanpa sambungan. Penggunaan material kayu jati sangat kokoh dan tahan lama, jadi perawatan untuk masjid juga tidak mungkin ada pemborosan pengeluaran. Jadi dengan teknik seperti itu menjadi ciri khas bangunan tradisional Jawa yang menunjukkan keterampilan kerajinan tangan yang tinggi. Mimbar dan mihrabnya dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang indah, akan tetapi bingkainya tetap menerapkan motif ukiran lokal.  Penggunaan motif seperti teratai yang biasanya ditemukan di Candi Hindu justru digunakan untuk menghiasi dekorasi-dekorasi masjid agar diterima oleh Masyarakat. Bahkan kolam air untuk tempat berwudhu mirip dengan pancuran arca diatanya yang tetap dipertahankan hingga sekarang sebagai bentuk dari toleransi.

Salah satu arsitektur Islam yang mencolok dan sering dilihat diluar masjid adalah kubah masjid. Namun kasusnya pada tempat beribadah ini tidak menggunakan kubah masjid sebagai penutup atap utamanya. Malah sebaliknya, bangunan tersebut menerapkan atap tumbang yang merupakan adaptasi dari bentuk meru dalam arsitektur Hindu. Dan gaya arsitektur tersebut dikombinasikan dengan konsep Islami, jadi bangunan ibadah ini bukan hanya sebagai bangunan bersejarah. Dan hingga kini, Masjid Al-Aqsa terus menjadi pusat ziarah dan studi, mengingat setiap pengunjung selalu takjub dengan keindahan yang tercipta ketiga agama dan budaya menjadi satu dengan damai.

Share Post :