Masjid Agung Lumajang atau bisa disebut Masjid Agung KH. Anas Mahfudz adalah salah satu monumen sejarah yang penting dan menjadi pusat peradaban Islam di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Masjid ini berdiri kokoh di sebelah barat alun-alun kota Lumajang, tidak hanya menjadi tempat beribadah, tapi bangunan ini juga menjadi saksi bisu perkembangan kota selama dua abad terakhir. Awal mulanya sekitar tahun 1825, sebelum menjadi masjid adalah langgar sederhana. Langgar ini didirikan oleh para pejuang dan pengikut pangeran Diponegoro yang hijrah ke wilayah timur Jawa. Dari masa ke masa, masjid ini mengalami beberapa perubahan besar, dan yang perubahan yang paling signifikan terjadi pada tahun 1987. Dimana masjid ini mengubah gaya arsitekturnya dari tradisional menjadi modern.
Perjalanan Desain dari Tradisional ke Modern
Di fase-fasel awal, Masjid Agung Lumajang terinspirasi dari gaya arsitektur khas Nusantara dengan atap berbentuk limas yang ditopang oleh tiang-tiang kayu. Desain ini biasanya banyak diterapkan pada masjid-masjid Jawa kuno, mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan material kayu dengan bentuk menyesuaikan iklim tropis. Desain atap tumpang tersebut menyimbolkan tingkatan spiritual dalam kehidupan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan kebutuhan, tentunya masjid ini mengalami beberapa pembaharuan yang sangat signifikan untuk bisa menampung jumlah jamaah yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Perubahan yang paling mencolok terjadi para akhir abad ke-20, dimana desain arsitekturnya yang berubah dari arsitektur Timur Tengah dan modern. Dan perubahan yang dilakukan ini membawa masuk elemen-elemen baru yang sekarang menjadi ciri khas yang banyak diterapkan pada masjid-masjid di Indonesia.
Kubah dan Menara sebagai Simbol Kegagahan
Mungkin beberapa orang banyak yang mengetahui, bahwa elemen masjid yang paling dominan dan selalu menjadi titik visual adalah kubah masjid. Dan sebelumnya, puncak atap pada masjid berupa mahkota atap khas Jawa, setelah perubahan desain kubh besar menjadi atap utama. Kubah tersebut diapit oleh beberapa kubah kecil yang terletak di atas menara. Dan biasanya, warna kubahnya berwarna hijau atau keemasan yang melambangkan kemulian dan ketenangan. Kubah masjid sendiri berfungsi sebagai visual utama dari masjid yang menandakan bahwa bangunan tersebut adalah tempat ibadah umat muslim. Serta bentuk melengkung pada kubah memberikan kesan lapang dan agung pada interior masjid.
Selain kubah, menara masjid juga ikut menghiasi, dimana memiliki fungsi historis sesbagai tempat muazin mengumandangkan adzan dan menjadi penanda arah kiblat bagi masyarakat sekitar. Biasanya desain menara dibuat ramping dan tinggi, memadukan gaya arsitektur khas Indonesia dengan sentuhan Timur Tengah.
Dekorasi Interior dan Kaligrafi
Dekorasi interior pada Tempat beribadah Agung di Lumajang ini menekankan pada kesederhanaan, keindahan, dan fungsi. Biasanya, dekorasi yang diterapkan pada bagian mihrab adalah ukiran dan hiasan kaligrafi Arab. Yang secara umum dipilih adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan keagungan Allah, contohnya ayar kurs atau lafadz syahadat. Tujuan dari penggunaan dekorasi ukiran kaligrafi-kaligrafi tersebut berfungsi sebagai meningkatkan kekhusyukan dan sebagai pengingat akan keesaan Allah.
Tidak hanya ukiran kaligrafi, terdapat beberapa elemen dekorasi lainya, contoh pertama adalah mimbar yang kerap dihiasi dengan ukiran kayu yang elegan. Kedua adalah pencahayaan, pemasangan lampu gantung besar pada bagian tengah masjid memberikan kesan yang megah. Ketiga, warna yang diterapkan pada interior, gunakan warna yang memberikan vibes sejuk seperti hijau, putih, krem. Sehingga memberikan kesan yang damai dan tenang pada para jamaah.
Dengan demikian, Masjid Agung KH. Anas Mahfudz Kabupaten Lumajang berdiri kokoh dengan perpaduan yang harmonis antara nilai-nilai sejarah dan kebutuhan fungsional arsitektur modern. Desainnya yang berubah-ubah seakan-akan menunjukkan perkembangan islam di Nusantara selalu beradaptasi menyesuaikan zaman, akan tetapi tetap teguh dalam memegang erat nilai-nilai kesakralannya.